Tulisan di bawah ini bersumber dari kajian “Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-hari” yang diberikan oleh Anand Krishna, dimana di dalam wejangan kali ini Beliau menitik beratkan kepada semangat juang. Dimana menurut Beliau semangat juang itu harus diajarkan sejak dini.

Mari sama-sama kita dengarkan wejangan Beliau dan semoga apa yang Beliau sampaikan ini bisa memberikan semangat juang bagi kita semua untuk senantiasa memberdayakan diri.

 

 

Melihat keadaan Arjuna yang sangat menyedihkan, penuh kegelisahan hati, dengan air mata bercucuran, serta kepala menunduk ke bawah; Madhusudana (Krsna, Sang Penakluk Raksasa Madhu) berkata demikian:” Bhagavad Gita 2:1

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda: “Dalam keadaan genting dan ditengah krisis seperti ini, Arjuna, dari manakah munculnya kelemahan hatimu, yang sungguh tidak pantas bagi seorang kesatria, tidak mulia, tidak terpuji, dan sangat memalukan.” Bhagavad Gita 2:2

https://bhagavadgita.or.id/

 

Inilah kondisi kita kebanyakan. Dalam keadaan gelisah kita melemah. Semestinya kita memiliki energi untuk menghadapi persoalan, tapi kebanyakan kita melemah. Apa yang salah? Dari pendidikan kita sejak awal, sejak dini. Kita tidak diajarkan, untuk bangkit kembali ketika kita jatuh.

Kebanyakan di antara kita, begitu kita jatuh ada yang cepat-cepat membantu. Masih kecil juga, begitu jatuh langsung kita dibantu dibangkitkan. Semestinya dibiarkan, ada anak yang menangis sedikit saja, orang tua sudah merasa gelisah. Segala keinginan dipenuhi. Ini adalah kesalahan. Jadi anak ini tidak dididik untuk menghadapi tantangan. Dari kecil semuanya terpenuhi.

Sekarang kita melihat, anak-anak muda sudah memiliki motor, sudah memiliki hand phone. Jadi sudah konsumtif, dia belum tahu cara untuk mencari uang. Tapi sudah dibelikan hand phone. Dia belum tahu mencari uang, tapi sudah merokok. Itu menghamburkan, membakar uang. Dan kadang-kadang orang tua melihat juga, tidak menegur. Kita memanjakan anak-anak kita. Dengan dimanjakan begitu, nanti dalam hidup, kalau mereka menghadapi suatu tantangan, menhadapi suatu persoalan melemah.

Seperti halnya yang dialami oleh Arjuna. Untung di situ ada Krishna yang mengingatkan, kamu menghadapi tantangan kok begitu lemah, kamu seorang satria. Kita tidak setiap kali mendapatkan, suatu teguran atau atau suatu upadesh, sustu wacana, seperti yang diterima oleh Arjuna dari Krishna.

Kita punya masalah kita cari dukun. Banyak di antara kita kan? Cari dukun, orang sakit, jatuh sakit, sesuatu yang normal, ada dokter untuk apa? Tapi begitu cari dukun, dia akan beritahu ini karena energi negatif, karena ini karena itu.

Sakit ya sakit, namanya mobil kalau rusak bagaimana? Cari Pak Kadek Yasa. Cari bengkel. Tapi saya terheran-heran ketika beberapa hari yang lalu, saya ketemu dengan orang mobilnya rusak cari dukun. Kenapa mobil saya ini sering rusak? Kamu beli mobil second hand tahun 1990-an sudah hampir 20 tahun mobil itu, kalau nggak rusak mau gimana?

Badan pun demikian, saya punya masalah lutut saya bicara dengan dokter Suartika, mengatakan ya ini usia, dan saya bisa terima sudah 62-63 gimana lagi? Sudah lumayan bisa duduk di sini bersama kalian semua.

Kita melemah, karena dari kecil kita tidak diajarkan untuk menerima kondisi yang sedang berubah-ubah. Ini adalah kelemahan Arjuna. Untung Arjuna punya Krishna yang mengingatkan dia.

 

“Janganlah menjadi seorang pengecut, wahai Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna); sikap yang demikian sungguh tidaklah cocok bagimu. Bebaskan dirimu dari kelemahan hati. Bangkitlah Parantapa, engkau yang selama ini telah menaklukkan banyak musuh di medan perang.” Bhagavad Gita 2:3

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kadang-kadang, kondisi seorang Arjuna ini agak lain, menghadapi satu keadaan musuh yang bisa ditaklukkan, dia semangat. Tapi begitu melihat musuh itu berat, susah ditaklukkan dia ngeper, takut. Ketakutan dia.

Kita juga demikian, maka harus diingatkan, dulu kau juga pernah menghadapi kondisi seperti ini. Dulu kamu pernah bangkit, sekarang kenapa tidak bangkit? Kalau kalian pernah punya pengalaman jatuh bangun dalam usaha, dalam pekerjaan, ingat pengalaman-pengalaman itu. Dulu juga pernah jatuh, bangun lagi. Sekarang jatuh lagi, pasti bisa bangun lagi. Kita harus membangkitkan Krishna dalam diri kita. Dalam diri setiap orang ada Krishna.

Cuma kita mau mendengar petuah-Nya, atau kita tetap lemah. Tetap menjadi pengecut. Tergantung pada diri kita.

 

“Wahai Madhusudana (Krsna Penakluk Raksasa Madhu), bagaimana aku bisa mengangkat senjata melawan mereka, untuk memushi mereka berdua yang sangat kuhormati?” Bhagavad Gita 2:4

https://bhagavadgita.or.id/

 

Sebetulnya bukan urusan hormat, urusan takut. Bhisma adalah kakeknya yang sakti, Drona adalah gurunya. Arjuna pasti juga berpikir kalau ada jurus yang disembunyikan oleh guru, dan nanti di medan perang akan dikeluarkan. Saya mati konyol.

Jadi dia sedang takut tapi rasa takut itu dia bungkus. Bungkus rapi dengan bagaimana saya dapat membunuh guru. Bagaimana ini, bagaimana itu. Ketika sedang judi, main judi kakaknya, dan kalah dan istri mereka dipermalukan. Saat mereka semua, Arjuna, Bhima, semuanya bersemangat maunya kita harus balas dendam.

Dan sekarang urusannya bukan balas dendam sebetulnya. Urusannya bagi Krishna adalah urusan di medan perang itu adalah urusan dharma melawan adharma. Kebetulan Pandava berada di pihak dharma, Kaurava berada di pihak adharma. Sehingga Krishna berada di pihak Pandava. Cara Kaurava memerintah, sangat menyiksa, sangat merugikan masyarakat semuanya merasa tertindas. Dan itu sebabnya Krishna menginginkan bahwa akan terjadi peralihan kekuasaan. Kaurava harus habis, harus menyingkir, dan Pandava yang berkuasa.

 

“Daripada membunuh guru, dan orangtua yang sepatutnya kuhormati, lebih baik hidup sebagai pengemis dengan peminta-minta; kenikmatan dunia apa yang akan kuperoleh dengan membunuh mereka? Kenikmatan duniawi yang ternoda oleh darah mereka – itu saja.” Bhagavad Gita 2:5

https://bhagavadgita.or.id/

 

Pintar, kadang-kadang, kita juga seperti itu. Lagi takut tidak mau menghadapi situasi, tapi ngeles kita. Arjuna juga sedang ngeles. Daripada begitu lebih baik saya menjadi pengemis. Nggak mungkin jadi pengemis, basa-basi, masih ada mertua indah. Tidak akan ada yang membiarkan dia menjadi pengemis. Jadi dia sedang ngeles. Daripada begini, lebih baik begitu, daripada begitu, lebih baik begini.