Tulisan dibawah ini bersumber dari kajian Bhagavad Gita yang diberikan oleh Anand Krishna, dimana di dalam kajian Bhagavad Gita tersebut Anand Krishna mengupa dan mengulas ayat-ayat di dalam Bhagavad Gita.

Banyak mutiara hikmah yang Beliau bagikan di dalam setiap sesi pertemuan, kali ini dalam video yang berjudul “Bhagavad Gita 04.18-25: Bekerja Sepenuh Hati tanpa Beban dan Rasa Khawatir” dimana Beliau banyak memberikan Tips yang sangat berguna bagi para pejalan spiritual.

Mari sama-sama kita dengarkan penjelasan Beliau, semoga apa yang Beliau sampaikan bisa memberikan inspirasi bagi kita semua untuk tetap memperbaiki dan memperdaya diri dari waktu ke waktunya.

 


 

“Ia yang melihat akarma dalam karma, tidak berbuat saat berbuat; dan karma dalam akarma, berbuat saat tidak berbuat; adalah searang bijak, seorang Yogi, yang telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga. Ia telah ber-karma, berkarya secara sempurna.” Bhagavad Gita 4:18

https://bhagavadgita.or.id/

 

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para pandit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.” Bhagavad Gita 4:19

https://bhagavadgita.or.id/

 

Berbuat seperti tidak berbuat. Kalau seseorang memahami hal ini. Kalau kita ada yang suka melakukan sesuatu, misalnya seorang seniman. Dia suka memahat, dan kemudian profesinya pun sebagai seniman. Hasil seni itu dia jual, dan dia mendapatkan keuntungan, yang wajar dia bisa menjalankan kehidupannya dengan profesi itu.

Seorang seniman yang juga suka seni, terus bisnisnya juga sebagai penjual benda-benda seni, dia ketika sedang melakukan pahatan atau apa, dia menikmati. Tidak ada beban, dia berbuat tapi tanpa beban.

Kalau seorang ibu di rumah, dia suka masak dia masak untuk anaknya untuk suaminya tidak ada beban, karena dia suka masak. Tapi kalau tidak suka masak, atau punya pekerjaan yang tidak suka, hanya karena uang kita bekerja, bebannya luar biasa. Tetapi di pihak lain juga, apakah mungkin setiap kali, kita mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kesukaan kita. Tidak juga,

Kadang-kadang kita harus bekerja melakukan pekerjaan sesuatu yang kita tidak suka. Krishna menjelaskan bagaimana kita berbuat, seperti tidak berbuat. Tanpa beban. Sukailah pekerjaan itu walaupun pekerjaan itu tidak suka. Kita bisa mengubah pikiran kita. Anggap itu adalah pemberian, tugas dari Sang Hyang Widhi, dari Gusti dari Tuhan apa pun sebutannya. Adalah berkah yang saya peroleh inilah peran yang saya peroleh, dan saya harus melaksanakan tugas saya, peran saya. Kalau kita bisa seperti itu, pekerjaan apa pun tidak akan membebani kita. Kita bisa melakukan dengan sangat mudah bahkan menikmati. Tidak ada beban sama sekali. Ini yang dimaksudkan oleh Krishna. Berbuat seperti tidak berbuat. Kalau tidak begitu kita sendiri akan gelisah. Dan Krishna juga mengatakan dalam sloka berikutnya:

Berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, karena imbalan akan dapat. Jadi kalau kita mikir terus, saya lagi membuat ini, buka warung, warung makanan. Saya lagi masak, nanti ada yang beli nggak, ada yang beli nggak. Pikiran kita yang kacau, akan membuat makanan kita tidak laku.

Dalam pekerjaan apa pun juga. Kalau pikiran kita kacau, jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu pekerjaan kita pasti tidak akan bagus hasilnya. Jadi Krishna mengatakan, sepenuhnya fokus pada pekerjaan dan nikmati. Penting sekali adalah nikmati pekerjaan. Sehingga tidak ada beban. Kalau tidak menikmati, akan terasa membebani.

 

“Seseorang yang tidak terikat dengan hasil perbuatannya, tidak perlu bergantung pada dunia benda. Ia senantiasa dalam keadaan puas batiniah. Kendati tetap berkarya, sesungguhnya ia tidak berbuat apa-apa.” Bhagavad Gita 4:20

https://bhagavadgita.or.id/

 

Kalau kita menikmati, dan kita tidak selalu memikirkan hasil melulu, karena hasil akan datang nggak bisa nggak datang. Pasti datang. Kalau kita berbuat tanpa mengharapkan tanpa memikirkan hasil melulu. Maka apa yang terjadi, sesungguhnya ia bekerja, berkarya tapi seperti tidak berkarya. Bayangkan dalam keseharian hidup, kita juga begitu. Kalau sedang melakukan sesuatu yang suka nggak ada beban, kita seperti menjalani dengan mudah sekali.

 

“Seseorang yang telah menguasai dirinya, pikirannya; dan, tidak lagi memiliki rasa kepemilikan terhadap benda-benda duniawi, walau berbuat sesuatu yang bersifat fisik murni, tetaplah bebas dari konsekuensi segala perbuatannya.” Bhagavad Gita 4: 21

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada orang, bekerja dan selalu yang diapikirkan saya mau belimobil. Beberapa hari yang lalu saya mendengar, cerita ini saya mau membeli mobil, jadi bekerja itu dia hanya tujuannya bukan apa-apa lagi, mau membeli mobil, mau membeli mobil. Dan dia bilang saya kuatir sekali, kalau saya sudah tahu beli mobil, mau bayar uang muka, kalau ada seseorang yang sakit dalam keluarga saya bagaimana? Uang muka itu kalau kepakai bagaimana? Saya kuatir sekali. Dan kekuatiran dia bilang memuncak sampai saya itu nggak bisa kerja nggak bisa apa cuma mikirkan uang, di bank 20-an juta mau beli mobil yang harganya berapa, mikirkan terus 20 juta jangan sampai habis, jangan sampai habis. Dia bilang kemarin apa yang terjadi, anak saya kecelakaan dan sekarang dia di rumah sakit, kita nggak tahu berapa habisnya. Mungkin saya harus pinjam uang lagi.

Ini pemikiran kita, pikiran yang kacau. Jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu. Jadi nggak ada fokus pada pekerjaan, malah yang dipikirkan, yang bukan-bukan, dan yang terpikir yang bukan-bukan itu malah terjadi. Jadi berbuatlah tanpa banyak pikiran berbuatlah yang terbaik hasilnya pasti ada.

 

“Ia yang puas dengan apa yang diperolehnya; bebas dari segala pertentangan, yang tercipta oleh dualitas; bebas dari rasa iri; dan, seimbang dalam keberhasilan maupun kegagalan – sesungguhnya telah bebas dari segala keterikatan walau ia tetap berkarya.”Bhagavad Gita 4:22

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ada orang lain, punya  toko di satu tempat di Jakarta di mall, di mall kan satu jenis dagangan, semua buka itu. Saya nggak tahu, di sini saya nggak begitu memperhatikan, tapi di Jakarta ada satu mall, dekat Sunter, di sana ada satu lantai semuanya jual handphone. Handphone, gadget semua toko jual itu. Ada nggak di sini? Ada ya. Satu lantai jual itu. Dan dia lagi jualan, dan dia lagi perhatikan, wah ditoko sebelah ada tamu, ada client, ada langganan, dan mungkin beli handphone yang lebih mahal, saya disini lagi melayani orang yang kere, tidak punya uang dia mau beli handphone yang murah. Malah handphone yang murah itu pun dia nggak bisa jual. Karena dia mau jualan barang tapi pikirannya di sebelah.

Bayangkan lagi bawa mobil, bukan memperhatikan jalan, bukan memperhatikan mobil, memperhatikan orang lain di sana ada satu tabrakan.kita memperhatikan tabrakan. Kita sendiri bisa ditabrak orang. Banyak orang begitu kan, nggak ada urusan kalau mau bantu silakan, ada yang tabrakan mau bantu silakan, parkirkan mobil, bantu orang ini. Ini mau nonton, mau nonton di belakang ada yang suka nonton, diantem. Diantem bukan salah saya. Kenapa bukan salah kamu, bagaimana bukan salah kamu, dia tanya karma buruk apaini, kalau semuanya dikaitkan dengan karma periksa juga dirimu. Tiba-tiba di toll, dimana setiap orang lagi jalan dengan kecepatan 80 kamu mengerem, dan menjadikan jalan 40 km/jam, di belakang belum tentu orang bisa rem secepat itu. Ya dihantam. Kalau mau bantu ya silakan, menyamping.Jadi begitulah kita kebanyakan, kitamemperhatikan hal-hal yang tidak penting,