Tulisan di bawah ini bersumber dari video kajian Bhagavad Gita yang diberikan oleh Anand Krishna dalam kelas “Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-Hari” yang diberikan secara rutin. Di dalam video yang berjudul “Bhagavad Gita 04.11-17: Memahami Kasta & Mengungkap Kebenaran Varna Berdasarkan Profesi” Beliau menjelaskan tentang kasta dan profesi serta kaitannya dengan Dharma, sebuah pembahasan yang mendalam.
Pembahasan ini menjadi penting bagi pelaku spiritual agar bisa menyelam lebih dalam lagi, mari sama-sama kita simak penjelasan Beliau dan semoga apa yang Beliau jelaskan bisa memberikan semangat bagi kita semua untuk senantiasa memberdaya diri dari waktu ke waktunya.
“Partha (Putra Prtha —sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), dengan cara apa pun seseorang mendekati—Ku, Aku menerima-Nya; karena, sesungguhnya setiap cara, setiap jalan yang ditempuh manusia adalah jalan-Ku, adalah jalan yang menuju-Ku.” Bhagavad Gita 4:11
Inilah intisari dari ajaran Hindu. Kita tidak membedakan antara jalan. Kepercayaan-kepercayaan lain selalu mementingkan jalan. Jalan saya paling benar.
Jalan saya paling ini, paling itu. Tapi cara berpikirnya Hindu berbeda. Semua jalan menujuTuhan yang sama. Tetapi kita hidup ditengah masyarakat, di mana pemahaman umum tidak seperti ini, jadi kita serba sulit.
Bagi seorang Hindu seperti Vivekananda mengatakan, dia tidak punya masalah sama sekali, mau duduk bersama siapa pun juga. Dia tidak membeda-bedakan.
Tetapi ketika seorang anak kita, memeluk kepercayaan lain, tiba-tiba dia mengatakan orang tua saya kepercayaannya lain, maka dia lain dari saya, ini yang menjadi masalah. Hindu tidak melihatnya seperti itu. Tetapi Hindu juga tidak mengatakankarena semua jalan benar, maka kita jalan-jalan saja nggak usah menuju tujuan. Tidak demikian juga.
Semuajalan menuju ke ashram ini katakan, ada jalan dari utara dari selatan dari barat dari timur, dari mana pun juga. Tapi kalau memang ada orang yang jalan dari arah utara, apakah harus dipaksa jalan dari selatan. Kalau adaorang berangkat dari timur, apakah dipaksa datang dari barat?
Tidak. Kita mengatakan semua jalan betul, tapi tidak berarti kita meninggalkan jalan kita, dan mengadopsi jalan lain. Semua jalan baik, betul tapi kalau rumahnya di arah barat, apakah dia harus ke timur dulu baru datang kesini. Tidak kan? Kita menghormati semua jalan tapi, kita punya jalan sendiri. Setiap orang punya jalan sendiri. Dan Krishna mengatakan, ikutilah jalanmu masing-masing. Tidak perlu gonta-ganti jalan. Kitasemua akan menuju tujuan yang sama.
“Makhluk-makhluk sedunia, yang menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka, umumnya memuja para dewa – kekuatan-kekuatan alam; dengan cara itu, mereka segera memperoleh apa yang mereka inginkan.” Bhagavad Gita 4:12
Ada yang memuja roh-roh, ada yang memuja para dewa, ada yang memuja siapa saja,ada yang memuja pejabat untuk mendapatkan jabatan untuk mendapatkan apa, ada yang memuja partai politik, ada yang memuja bossnya. Kita memuja siapa saja untuk mendapatkan suatu hasil. Krishna mengatakan,ya ada juga orang-orang seperti itu.
Tapi dengan cara itu kita cuma mendapatkan hasil di dunia ini. Tidak ada hasil lain. Apakah dengan mendapatkan satu jabatan kita mendewa-dewakan Boss, mendewa-dewakan orang penting. Kita mendapatkan jabatan. Apakah jabatan, itu bisa membahagiakan kita selamanya. Tidak. Kita bisa mendapatkan jabatan, fine oke. Tetapi untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, kedamaian sejati kita tidak bisa mendapatkan dari dewa=dewaini. Di dunia juga banyak dewa seperti saya katakan tadi, boss adalah dewa. Petinggi adalah dewa, kita bisa mengagung-agungkan seseorang untuk mendapatkan sesuatu tetapi belum tentu semua itu membahagiakankita. Ujung-ujungnya kita harus kembali pada diri kita sendiri.
Untuk mendapatkan sesuatu yang bisa membahagiakan, menentramkan kita untuk selamanya.
“Pembagian tatanan masyarakat dalam empat bagian (cendekiawan, kesatria, pengusaha, dan pekerja) berdasarkan sifat dan peran mereka masing-musing adalah atas kehendak-Ku pula. Kendati demikian Aku Tak Terbagi, Aku Tetap Kekal Abadi, dan tidak pula terlibat dalam suatu tindakan.” Bhagavad Gita 4:13
Ini yang kita salah pahami, sampai sekarang pun kita salah pahami. Pembagian yang sekarang kita sebut kasta, sebetulnya dalam bahasa Sanskerta adalah Varna. Varna itu berarti pembagian berdasarkan pekerjaan. Kalaupun seorang gembel mau menjadi pendeta dari kasta rendah mau jadi pendeta, dia mau ambil porsi sebagai pendeta, dia meninggalkan segala bentuk hal lain, dia menarik diri dari duniawi, boleh saja itu pekerjaan.
Krishna mengatakan bahwa pembagian itu bukan karena kelahiran. Coba bayangkan, Abhyasa, Vyaas yang mengumpulkan Veda, bapaknya konon seorang brahmana, ibunya adalah seorang biasa, penjual ikan. Dan lahir di luar pernikahan. Tapi karena pekerjaannya yang begitu mulia, kita menghormati beliau sebagai Jagad Guru. Beliau yang mengumpulkan Veda beliau yang menulis Mahabharata,
Jadi kita tidak melihat seseorang dari kelahirannya. Dari pekerjaannya. Mungkin seorang lahir dalam keluarga brahmana, bapaknya brahmana, ibunya dari keluarga brahmana, kalau dia jadi penjahat, tetap juga hukum undang-undang berlaku. Ada seseorang disini, mungkin lahir di keluarga apapun juga. Bapaknya seorang pengusaha, Vaisya. Tapi dia mau jadi tentara, apa tidak boleh? Boleh.
Dan 5.000 tahun yang lalu Krishna sudah mengatakan, bahwa soal Varna ini adalah profesi pekerjaan. Dan orang bisa menentukan berdasarkan sesuai dengan keahlian. Anaknya seorang brahmana boleh menjadi brahmana. Boleh juga menjadi tentara. Boleh juga menjadi pengusaha. Asal dia punya kemampuan. Kalau tidak punya kemampuan belajar. Tidak ada larangan dan tidak ada satu pemikiran pun, bahwa yang sudra itu kelompok pekerja paling rendah. Tidak.
Hampir semua di antara kita sekarang ini adalah kelompok pekerja. Yang punya usaha sendiri siapa? Beberapa orang di sini barangkali, yang lain adalah sudra. Sudra adalah pekerja, bukan suatu penghinaan. Sudra berarti kelompok orang-orang yang tidak punya usaha sendiri. Dan bekerja. Kalau seseorang menjad iguru, dia itu brahmana. Walaupun dia tidak lahir dalam keluarga brahmana. Kalau dia menjadi guru, dan dia mendidikanak-anak. Dia membangun bangsa negara, lewat pendidikan, dia seorang brahmana. Seorang pemikir adalah seorang brahmana. Ada orang yang lahir bapaknya sudra, ibunya sudra kalau dia jadi pengusaha besar, pengusaha kecil, buka warung, dia sudah mengambil porsi Vaisya. Porsi pengusaha.
Jadi bukan soal rendah dan tinggi. Soal pekerjaan. Ada kelompok, ada asosiasi kedokteran. Ada ikatan dokter Indonesia. Yang bisa menjadi anggota IDI adalah dokter berdasarkan keahlian.
Maaf saya berikan contoh misal disini, dr Suartika dia seorang dokter dia anggota IDI, besok-besok, semoga beliau hidupnya panjang, tapi coba kalau beliau tidak ada apakah keanggotaan itu bisa diwariskan kepada anaknya. Tidak bisa. Kecuali anak juga menjadi dokter. Kalau anaknya menjadi dokter, dia juga wajib menjadi anggota IDI.
Pengusaha menjadi anggota KADIN. Kalau anaknya bukan pengusaha, dia mau jadi tentara, dia jadi anggotaTNI, nggak bisa jadi anggota KADIN. Begitu sederhana. Tapi kita membuat diri kita bingung karena kita dipecah-belah. Oleh kelompok-kelompok yang mau menjajah kita. Kita dipecah-belah seolah-olah, seorang pendeta, seorang brahmana, itu sekali brahmana, selanjutnya selalu brahmana. Ya kalau dia bertindak, sesuai dengan yang demikian.
Semestinya demikian anak seorang brahmana harus belajar pada orang tuanya bertindak sebagai brahmana. Anak seorang pengusaha, bisa belajar usaha dari orang tuanya, dan melanjutkan usaha orang tua. Seorang yang menjadi anggota TNI, kalau anaknya mau jadi anggota TNI, boleh juga. Dokter anaknya mau jadi dokter boleh juga. Tapi kalau tidak menjadi dokter, tidak menjadi anggota TNI, tidak menjadi pengusaha tentu dia tidak bisa beranggota memiliki keanggotaan, dalam asosiasi itu. Dokter asosiasinya IDI, pengusaha asosiasinya KADIN, Union Buruh asosiasinya lain lagi.
Setiap orang mengikuti asosiasinya. Jadi Varna ini yang diebut kasta, itu asosiasi berdasarkan pekerjaan. Demikian dikatakan oleh Bhagavad Gita. Tetapi Krishna juga mengatakan, walaupun pekerjaan itu beda-beda asosiasinya beda, tapi Aku, Aku yang dimaksud oleh Krishna adalah Atma, Jiwa kita satu. Adanya walaupun ada yang badannya keahliannya, otaknya, membawa dia ke dalam kelompok dokter, kelompok pengusaha, kelompok TNI, tapi perbedaan-perbedaan ini berdasarkan profesi. Jiwanya, Atmanya sama. Tidak pernah berpisah atau terbagikan.
“Karma atau tindakan apapun tidak memengaruhi-Ku, mengngikat-Ku, karena Aku tidak terikat pada hasil karma.Seseorang yang memahami hakikat-Ku ini terbebaskan pula dari segala keterikatan pada karma dan hasilnya.” Bhagavad Gita 4:14
Ini penting sekali. Kalau kita sadar, saya sebagai pengusaha, tapi yang menjadi pengusaha itu siapa? Badan,otak, Jiwa tidak menjadi pengusaha. Atma tetap adalah bagian percikan dari Sang Hyang Widhi. Begitu seleai pekerjaan kita, dalam dunia ini, apa yang terjadi? Semestinya apa yangterjadi? Saat saya mati semestinya saya itu sadar sekarang pertunjukan sudah selesai. Saya pulang. Tidak terikat dengan pertunjukan itu.
Kita sekarang ini terikat dengan pertunjukan. M kanya bolak-balik lahir lagi. Lahir lagi, lahir lagi. Sudah mau mati seharusnya semuanya bebas, tapi kita terikat. Wah saya jadi pengusaha ini, kalau saya mati,usaha siapa yang jalankan. Keterikatan, keterikatan dengan keluarga, keterikatan dengan siapa, itu membuat kita lahir kembali lahir kembali.
Selama kita berada di atas panggung. Kita semua sedang di atas panggung. Ada yang pak Nyoman panggungnya di galery dia, ibunya juga di sana. Ada pak Suartika yang panggungnya di rumah sakit. Ada Dharma panggungnya jadi PNS. Setiap orang,ini panggungnya tourism industries, Wiranatha. Ada yang panggungnya sebagai mahasiswa. Ini panggung.
Selama kita di panggung, kita menjalankan tugas. Kalau sudah mau pulang, panggung jangan dibawa pulang. Misalnya di sini mau main pentas, jadi Sutasoma di situ, jadi Gatotkaca. Atau jadi Rahwana. Makai topeng segala jadi Rahwana. Terus karena sudah main sebagai Rahwana, pulang-pulang topengnya dibawa pulang juga. Di rumah pun jadi Rahwana. Bisa nggak, boleh nggak? Nggak kan. Nah kita ini membawa pulang topeng, sudah mau mati topengnya dibawa lagi, lahir lagi. Pakai topeng yang sama.
Kalau kita sadar waktu itu, waktu kematian, pertunjukan saya sudah selesai sekarang. Coba saya cari pertunjukan baru. Kita sekarang ini lahir di situ- situ juga. Saya sering mengatakan kan, dulu jadi kakek sekarang jadi cucu. Kita pikir itu hebat. Nggak, itu berarti kita bodoh. Nggak maju-maju kita.
Di situ-situ saja. Makanya di sinetron kalian suka lihat kan, sinetron-sinetron India yang nggak masuk akal. Setiap saat berantem terus. Dan mau berantem harus pelan-pelan ngomong. Orang berantem ya berantem ini masak,3 kali diulangi, masak, masak. Mana ada orang omong begitu, sinetron itu 20 menitan, dia kehabisan cerita, jadi dipanjang-panjangi dan kita seperti orang bodoh dibodohin terus. 3 kali masak. Orang mau berantem, berantem nggak ada 3 kali ngomong dulu. Nggak ada.
Nah ini kita terpengaruh oleh pertunjukan, dan kita mengulangi lagi pertunjukan. Itu dari masa ke masa. Kalau kita sadar pertunjukan itu telah selesai. Saya jadi Rahwana, saya jadi Krishna, jadi Rama, di atas panggung, sekarang saya pulang ke rumah, kembali jadi Wayan, kembali jadi Ketut, kembali jadi Made kembali jadi Nyoman. Jangan jadi Nyoman Rahwana. Jangan jadi Putu Rahwana. Rahwana tinggalkan di panggung. Ini maksudnya Krishna.
“Kendati demikian, setelah mengetahui Hakikat Jiwa, yang sesungguhnya tidak terlibat dalam suatu karya; para bijak sejak dulu, tetaplah berkarya semata untuk meraih kebebasan sejati atau moksa. Sebab itu, hendaknya engkau pun mencontohi mereka dan berkarya sebagaimana mereka berkarya.” Bhagavad Gita 4:15
Saya tahu, saya Anand Krishna, tapi kalau saya diberikan peran di atas panggung, jadi Rama atau jadi Krishna, jadi Rahwana. Saya harus tetap memainkan peran saya. Jangan ngotot di sana. Seperti anak kecil, ditanya dia nggakbaca, crita sudah dikasih pekerjaan, harus baca Ramayana. Nggak baca, guru bertanya siapa menculik Sita, semuanya tahu kan, anak itu angat tangan. Bu, bukan saya culik. Nggak tahu cerita dia. Nah kita harus pintar-pintar, kalau diatas panggung harus tahu cerita juga. Nggak bisa di sana ngotot. Bukan saya yang culik. Nggak bisa. Dikasih cerita dikasih peran,nah ini kita semua mendapatkan peran nih. Peran saya duduk di sini. Peran kalian duduk di sana. Tapi ini semua peran. Jangan sampai saya pikir wah saya karena peran saya duduk di kursi ini saya orang hebat. Nah ini akan mencelakakansaya.
Karena mendapatkan peran sebagai Sutasoma, saya pikir saya sudah menjadi satria yang hebat. Bisa menaklukkan naga bisa menaklukkan gajah, bisa menaklukkan singa. Pergi ke kebun binatang, dia masukin tangan ke dalam kandang singa. Kita terpengaruh oleh peran, perannya begitu tidak berarti kamu sudah jadi hebat. Karena kebetulan perannya seperti itu. Mainkan peran dengan baik. Mainkan dengan sempurna, tapi jangan sampai menjadi egois bahwa saya hebat, saya apa, selalu ingat bahwa semuanya ini adalah peran. Jadi tetap kita mainkan peran, tidak meninggalkan pekerjaan, dan kita belajar orang-orang yang sedang melakukan peran itu orang bijak selalu berkarya, sesuai dengan perannya. Dan kita contohi. Kita harus mencontohi bagaimana mereka menjalankan peran dengan baik, kita juga harus menjalankan peran kita dengan baik. Peran sebagai bapak, peran sebagai ibu, peran sebagai istri, peran sebagai adik sebagai kakak, peran sebagai anggota banjar. Peran sebagai pedanda. Peran sebagai apapun. Harus dijalankan baik, sesuai dengan peran itu.
“Apa hakikat karma atau perbuatan, dan apa pula hakikat akarma atau tidak berbuat. Hal ini telah membingungkan banyak orang, sekalipun sudah berpengetahuan. Sebab itu, akan Ku-jelaskan padamu tentang hakikat karma. Pengetahuan hakiki ini dapat membebaskan dirimu dari segala akibat tidak baik, tidak mulia, dari perbuatanmu.” Bhagavad Gita 4:16
“Hendaknya searang mengetahui kebenaran tentang karma, perbuatan; tentang akarma, tidak berbuat, dan, tentang vikarma, perbuatan jahat yang menyengsarakan, dan mesti dihindari. Memang sungguh sulit memahami kinerja karma, rahasia karma.” Bhagavad Gita 4:17
Jadi kita harus tahu, kita akan lanjutkan lagi minggu depan, apa itu karma, kapan kita harus berbuat karma. Kapan kita tidak berbuat, akarma. Dan apa pula vikarma, karma yang jelek itu apa? Kalau diberi kata vi itu menjadi jelek. Jadi kalau punya anak lain kali jangan dikasih pakai nama vi. Saya dengar ada orang kasih nama anaknya vijayanti. Jaya itu jaya wijayanti itu semoga tidak berjaya. Wiranatha masih lain. Wira. Kadang-kadang kita terjebak, Vijaya sendiri masih masuk akal, tapi kadang-kadang kita memberikan nama, merta-amerta. Merta ituadalah mati. Amarta itu abadi. Kadang-kadang kita maunya dipersingkat, malah kacau namanya. Jadi Krishna mengatakan kita harus tahu apa maksud karma itu apa, yang harus kita lakukan apa, apa yang menjadi karma yang buruk yang harus kita hindari yang akan kita lanjutkan minggu depan. Terima kasih.